Bukittinggi

Jam Gadang: Destinasi Wisata Sejarah Kelas Dunia di Indonesia

Apakah anda sudah pernah melihat dan mendengar sebuah menara jam yang terkenal di London?

Benar, menara jam itu di beri nama Big Been yang berlokasi di Istana Westminster, London, Britania Raya – Inggris.

Bagi anda yang belum pernah ke sana karena jaraknya yang begitu jauh dari Indonesia dan mahalnya biaya perjalanan, anda bisa datang ke Kota Bukittinggi di Provinsi Sumatera Barat untuk melihat menara jam yang hampir mirip dengan Big Ben yang ada di London.

Menara jam yang ada di Kota Bukittinggi ini diberi nama “Jam Gadang”. Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia artinya Jam Besar. Karena orang Minangkabau menyebut besar dengan “Gadang”.

Jam Gadang ini merupakan sebuah peninggalan zaman Hindia-Belanda yang memiliki daya tarik yang tersembunyi dari mulai waktu pembangunan sampai dengan era modern zaman ini. Jam Gadang telah melalui tiga kali renovasi pada bagian puncaknya.

Jam Gadang ini berada tepat di Pusat Kota Bukittinggi yang di jadikan sebagai markah tanah (penanda) dan titik nol Kota Bukittinggi.

Jika naik ke menaranya, anda bisa menyaksikan keindahan Kota Bukittinggi dan melihat langsung pesona tiga buah gunung, yaitu: Gunung Sago, Gunung Marapi dan Gunung Singgalang.

Lokasi Jam Gadang Bukittinggi

Bangunan Jam Gadang ini terletak di pusat atau jantung Kota Bukittinggi. Pasar Atas, Pasar Bawah, Plaza Bukittinggi, dan Istana Bung Hatta berada di sekelilingnya.

 

Struktur Bangunan Jam Gadang

Bangunan menara Jam Gadang yang berada di Pusat Kota Bukittinggi memiliki ketinggian lebih kurang 26 meter dengan luas bagian tapak bawahnya lebih kurang 13 x 4 meter.

Pada bagian atas terdapat 4 buah jam di setiap sisi-sisinya yang memiliki ukuran yang sama besar. Ke-4 jam tersebut memiliki diameter 80 centimeter. Mesin jam yang menggerakan ke-4 jam ini berada pada bagian dalam bangunan, tepatnya ditingkat ke-3.

©Photo: Deni Dahniel

Terdapat empat buah tingkatan yang bisa anda lewati di dalam bangunan jam ini. Pada tingkat ke-1 terdapat ruangan yang digunakan oleh petugas Jam Gadang untuk mengawasi siapa saja yang akan naik ke atas.

Pada tingkatan ke-2, akan terlihat bandul pemberat jam yang memiliki peranan sangat penting. Pada tingkatan ke-3, akan terlihat bentuk mesin jam. Mesin jam ini merupakan barang antik dan langka, karena hanya dibuat 2 buah di dunia. Mesin jam yang pertama, digunakan untuk menara jam Big Ben di London dan mesin jam kedua digunakan pada Jam Gadang di Bukittinggi.

Mesin jam ini memiliki keunikan, karena di dalamnya terdapat sistem yang bekerja menggerakkan jam secara mekanik dibantu dengan dua buah bandul besar yang saling menyeimbangkan. Sistem inilah yang membuat jam terus berfungsi setiap tahunnya tanpa bantuan sumber energi apapun.

Jika jam mengalami kerusakan atau macet, sudah ada petugas yang bisa memperbaikinya tanpa harus mendatangkan montir khusus dari luar negeri. Petugas tersebut tidak memiliki kemampuan profesional secara formal dalam memperbaiki jam. Petugas tersebut diajarkan secara turun-temurun cara memperbaikinya dan ilmu mesin jam ini.

Pada tingkatan ke-4, digunakan untuk tempat menaroh lonceng jam yang besar. Tingkat ke-4 ini merupakan tempat paling atas dari menara Jam Gadang. Jika berdiri di sini, akan terlihat dengan jelas loncengnya, jika diperhatikan lebih dekat, di bagian lonceng ada tulisan Vortmann Recklinghausen.

Vortmann adalah orang yang membuat jam ini dengan nama lengkapnya Benhard Vortmann. Sedangkan Recklinghausen merupakan sebuah kota yang berada di Jerman, tempat pembuatan mesin Jam. Mesin jam ini diproduksi pada tahun 1892.

Penulisan angka untuk menunjukkan waktu pada jam, di tulis menggunakan angka romawi. Tapi angka ‘IV’ yang biasa digunakan, tertulis ‘IIII’ untuk penanda jam empat. Hal ini tidak lazim sebenarnya, tapi ini menjadikannya sebuah daya tarik dan penasaran bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bukittinggi.

Bangunan ini tidak terbuat dari batu bata dan semen, juga tidak menggunakan dan memiliki besi penyangga. Hanya putih telur, campuran kapur dan pasir putih, yang di gunakan oleh pembuatnya pada zaman itu untuk membangun menara Jam Gadang.

Sejarah Jam Gadang

Pembangunan Jam Gadang pada era Hindia-Belanda di perintahkan oleh seorang ratu yang berasal dari Belanda bernama Ratu Wilhelmina. Setelah bangunan Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926, Ratu Wilhelmina menghadiahkannya kepada Rook Maker yang pada saat itu menjabat sebagai sekretaris di Fort De Kock. Fort De Kock adalah sebutan lain dari Kota Bukittinggi pada saat ini.

Pembangunan Jam Gadang pada era Hindia-Belanda menghabiskan biaya sampai 3.000 Gulden. Jika 1 gulden Rp 7.500 maka totalnya Rp 22.500.000 untuk saat ini. Jika anda membayangkan hidup pada zaman ini, biaya sebesar itu tergolong sangat banyak sekali.

Bangunan Jam Gadang di rancang oleh Yazid Abidin Rajo Mangkuto. Beliau berasal dari Minangkabau dan merupakan arsitek yang merancang pembangunan menara jam ini. Beliaulah yang merancang pembuatan Jam Gadang.

Pada saat pertama kali di bangun, puncak paling atas dari Jam Gadang di bikin bulat bergaya khas Eropa dan di atasnya ditarok patung ayam jantan. Patung ini menghadap ke arah Timur.

Pada zaman pendudukan Jepang, puncak dari Jam Gadang diganti dengan gaya arsitektur Jepang berbentuk Pagoda.

Pada zaman Kemerdekaan Indonesia, puncak Jam Gadang kembali diganti dengan bentuk gonjong yang merupakan ciri khas arsitektur bangunan Minanangkabau. Jadi, mulai dari awal didirikan sampai dengan saat ini, telah terjadi tiga kali perubahan pada bagian atas/atap bangunan menara Jam Gadang.

 

“Bagaimana cara Menuju Jam Gadang?”

Akses jalan yang sudah bagus, di lengkapi dengan rambu-rambu petunjuk arah, ditambah dengan keramahan warga Kota Bukittinggi, akan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke Jam Gadang Bukittinggi. Berikut ini beberapa cara untuk menuju Jam Gadang:

1. Bandara Internasional Minangkabau

Sumatera Barat sudah memiliki sebuah bandara yang diberi nama Bandara Internasional Minangkabau. Wisatawan domestik dan mancanegara bisa datang ke Sumatera Barat dan turun disini. Berikut ini beberapa alternatif bagi anda untuk melanjutkan perjalanan ke Jam Gadang Bukittinggi dari Bandara internasional Minangkabau:

Jika anda turun di Bandara internasional Minangkabau, anda bisa melanjutkan perjalanan ke Jam Gadang Bukittinggi menggunakan Taksi yang sudah di sediakan di bandara. Dengan cara ini, anda akan sampai tepat waktu dan tidak akan pindah-pindah mobil.
Untuk anda yang datang secara rombongan dan keluarga, anda bisa naik travel atau sewa mobil dengan jasa guide sekaligus yang ada di bandara untuk menuju ke sini. Dengan cara ini, anda bisa bercengkrama dengan supir/guide travel selama perjalanan untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang Jam Gadang dan wisata Sumatera Barat. Anda juga akan sampai tepat waktu dan turun di Jam Gadang tanpa pindah-pindah mobil.

Pihak Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sudah menyediakan angkutan yang diberi nama Bus Damri. Tapi tidak ada yang menuju ke Jam Gadang Bukittinggi.

Naiklah Bus Damri ini dan turun di Kota Padang. Carilah Mini Bis (elf) dengan tujuan Kota Bukittinggi di Ulak Karang – Padang. Setelah anda naik Mini Bis (elf) ini, turunlah di Terminal Aur Kuning Bukittinggi. Dari sini anda lanjutkan perjalanan dengan naik angkot nomor 13 menuju Jam Gadang.

Karena Bis Damri tidak bisa berhenti di jalan, ada alternatif yang lebih cepat tanpa harus ke kota Padang, yaitu dengan naik taksi dari bandara menuju “Simpang Duku” yang tidak jauh dari bandara. Di Simpang Duku, naiklah mini bis (elf) menuju Terminal Aur Kuning Bukittinggi. Jika sudah sampai terminal, sambunglah dengan naik angkot nomor 13 yang menuju Jam Gadang.

 

2. Menggunakan Kendaraan Pribadi (Mobil – Motor)

Jika anda menggunakan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil, berikut ini ada beberapa alternatif untuk menuju ke Jam Gadang Bukittinggi:

Jika anda sudah di Bukittinggi, sebenarnya banyak alternatif jalan yang bisa dipilih untuk menuju Jam Gadang Bukittinggi. Anda bisa mengikuti petunjuk arah yang ada di setiap persimpangan rambu-rambu lalu lintas. Atau kalau bingung, anda bisa bertanya kepada warga Kota Bukittinggi di sepanjang jalan. Warga Kota Bukittinggi sangat ramah dan mudah bergaul.
Jika anda dari Kota Padang membawa kendaraan pribadi, teruslah menuju Lubuak Buayo, lanjutkan ke Lubuak Aluang, lanjutkan lagi ke Kapalo Hilalang, nanti akan sampai di Padang Panjang, teruskan ke Koto Baru, lanjutkan lagi menuju Padang Lua, dan tidak jauh lagi anda akan sampai di Kota Bukittinggi. Dari Bukittinggi tempuhlan jalan Jendral Sudirman, teruskan ke Jalan Istana dan tidak jauh lagi anda kan sampai di Jam Gadang Bukittinggi.
Jika anda berangkat dari Kota Pekanbaru dengan membawa kendaraan pribadi, teruskanlah perjalanan menuju Kelok 9 Kabupaten 50 Kota, lanjutkan lagi sampai ke Harau, teruskan sampai ke Kota Payakumbuh, lanjutkan lagi ke Piladang, dan teruskan lagi sampai ke Baso, sudah sampai Baso anda akan melihat Kota Bukittinggi. Dari Kota Bukittinggi tempuhlan jalan Jendral Sudirman, teruskan ke Jalan Istana dan tidak jauh lagi anda akan sampai di Jam Gadang Bukittinggi.

 

5 Misteri Angka 4 Pada Jam Gadang

Angka 4 pada Jam Gadang menjadi daya tarik dan perhatian bagi wisatawan yang datang ke Kota Bukittinggi karena tertulis ‘IIII’ bukannya ‘IV’. Karena keunikan angka empat romawi ini, banyak orang yang bertanya-tanya, apakah merupakan kesalahan penulisan atau ada maksud tertentu dari angka 4 tersebut?

Berikut ini ada 5 misteri tentang angka 4 pada Jam Gadang:

  1. Orang Belanda memiliki rasa takut dan cemas ketika menggunakan angka romawi ‘IV’ pada Jam Gadang, karena mereka mengira angka romawi ‘IV’ sebagai “I Victory”. ‘Aku Menang’ dalam Bahasa Indonesianya. Jika tetap digunakan, angka romawi ‘IV’ pada jam akan menjadi pemicu untuk merebut kemerdekaan oleh rakyat Indonesia.
  2. Ada juga yang menganggap angka romawi ‘IIII’ sengaja untuk dibuat sebagai jumlah korban yang meninggal ketika proses pembangunan jam Gadang.
  3. Pandai besi saat itu lebih memilih angka romawi ‘IIII’ supaya lebih mudah dan hemat dalam pengerjaannya.
  4. Pada abad ke-19, angka 4 dalam tulisan romawi memang di tulis ‘IIII’. Hal ini dibuktikan dari jam matahari yang telah dibuat sebelum abad ke-19.
  5. Pada zaman itu, orang berfikir bahwa penggunaan angka romawi ‘IV’ tidak akan memberikan keseimbangan atau visual simetri dengan angka romawi ‘VIII’ yang berjumlah 4 buah. Supaya terjadi visual simetri, maka di buatlah angka romawi ‘IIII’.

Dilihat dari 5 misteri di atas, tidak ada satupun misteri yang bisa dijadikan acuan mengapa angka 4 pada jam gadang dibikin seperti itu. Jadikanlah misteri angka 4 pada Jam Gadang sebagai daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional untuk datang dan singgah mengunjungi Jam Gadang Bukittinggi.

 

Kegiatan Seru Yang Bisa Dilakukan Di Kawasan Wisata Jam Gadang

Jika anda liburan ke Jam Gadang Bukittinggi, jangan lupa untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

1. Menaiki Menara Jam Gadang

Jika anda mendapatkan izin, anda bisa naik ke atas menara Jam Gadang dan melihat bagian dalam dari bangunan ini mulai dari tingkat pertama samapai tingkat keempat. Dari atas menara anda bisa menyaksikan keindahan Kota Bukittinggi dan melihat pesona 3 buah gunung, yaitu: Gunung Sago, Gunung Marapi dan Gunung Singgalang.

2. Kuliner

Di kawasan wisata Jam Gadang, sudah ada warung dan rumah makan yang bisa anda kunjungi untuk mencicipi kuliner khas Kota Bukittinggi

3. Berbelanja

Sudah ada Pasar Atas dan Pasar Bawah di dekat Jam Gadang yang bisa anda kunjungi untuk berbelanja oleh-oleh khas Kota Bukittinggi

4. Naik Bendi

Bendi adalah sebutan lain dari ‘Delman’ oleh masyarakat Minangkabau. Anda yang sedang berada di Jam Gadang, bisa naik Bendi bersama teman atau keluarga untuk berkeliling kawasan wisata Jam Gadang.

 

Fasilitas di Sekitar Jam Gadang Bukittinggi

Untuk anda yang akan berlibur ke kawasan wisata Jam Gadang, sudah terdapat berbagai macam fasilitas pendukung seperti:

  • Tong Sampah
  • Toilet
  • Tempat Parkir
  • Penginapan
  • Hotel
  • Rumah Makan
  • Musholla/Masjid
  • Guide
  • Jasa Fotografi
  • Keamanan

Semoga artikel ini bisa membantu Anda dan keluarga untuk datang berlibur ke Jam Gadang.

Dilarang menggunakan gambar dan video yang ada pada artikel ini sebelum Anda mendapatkan ijin dari pemilik Aslinya.
Menurut kami, masih banyak hal-hal di Jam Gadang yang belum masuk di artikel ini. Jika Anda memiliki informasi yang lain, silahkan di tambahkan di komentar.

User Rating: 4.75 ( 6 votes)
Tags

Amin

Saya bersama Tim sedang mengerjakan jejaring sosial pariwisata Sumatera Barat, mohon bantuan dan doanya. Founder of @minangtourism
Back to top button
Close
Close