Tanah Datar

Masjid Raya Rao Rao: Bangunan Cagar Budaya dengan Perpaduan Tiga Budaya

Kabupaten Tanah Datar memiliki banyak anugerah peninggalan sejarah yang beragam. Salah satu peninggalan sejarah itu berupa Cagar Budaya yang berbentuk bangunan, dikenal dengan sebutan Masjid Raya Rao-Rao.

Masjid Raya Rao-Rao menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri kokoh dan digunakan oleh masyarakat Nagari Rao Rao untuk beribadah sampai saat ini.

©Photo: ig @maizalchaniago

Sejarah

Seabad yang lalu, di satu nagari kecil di pinggang Gunung Merapi. Di lintas Jalan Batusangkar-Bukittinggi. Di saat jalan lintas itu belum beraspal mulus seperti sekarang. Nagari di Ranah Minang masih gelap gulita. Belum ada aliran listrik. Saat itulah, tepatnya tahun 1908, para tetua/sesepuh atau di Ranah Minang disebut dengan tungku tigo sajarangan (kaum ulama, ninik mamak/para penghulu, cerdik pandai) Orang Rao-Rao, merancang satu masjid yang indah di pandang mata.

Tidak sekadar baik menurut ilmu arsitek seperti yang berkembang sekarang. Melainkan juga dijiwai oleh semangat mengamalkan Islam secara kaffah, yang sejalan dengan menerapkan adat Minangkabau yang terkenal : Adat Basandi Syara’ dan Syara’ Basandi Kitabullah (adat bersendi pada Agama, Agama bersendi pada Al-quran). Apa yang harus dianut dalam adat, harus sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Masjid ini di bangun di Nagari Rao-Rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Di bangun di tanah wakaf H. Mohammad Thaib Caniago pada tahun 1908 yang diprakarsai oleh Abdurrachman Datuk Majo Indo bersama masyarakat Nagari Rao-Rao. Masjid ini diselesaikan akhir tahun 1918.

©Photo: ig @kitfrique007

Arsitektur

Masjid ini memiliki luas 16 meter persegi dengan gaya arsitektur yang unik. Arsitektur masjid ini memadukan corak arsitektur dari tiga bangsa: Melayu (Minangkabau), Eropa (Italia dan Belanda), dan timur Tengah (Persia).

Atap masjid ini berbentuk limas yang terdiri dari empat undakan dengan permukaan cekung, hanya saja di tingkatan atap teratas terdapat ruang berbentuk persegi dengan empat atap bergonjong mengarah ke empat penjuru mata angin, sementara pada bagian menaranya terdapat ruang berbentuk segidelapan beratapkan kubah.

Di dalam ruang salat berdiri empat tiang utama yang terbuat dari beton. Di bagian mihrab masjid yang baru dibuat mimbar permanen pada tahun 1930, dihiasi hiasan berupa pecahan kaca keramik. Mimbar tersebut berukuran 3 × 1,38 meter dengan tinggi 3,1 meter.

Source
WikipediaKemdikbud
Tags

Amin

Saya bersama Tim sedang mengerjakan jejaring sosial pariwisata Sumatera Barat, mohon bantuan dan doanya. Founder of @minangtourism
Close
Close