Seni dan Budaya

Jamuan Negeri Minangkabau

Tradisi masak bersama yang penuh filosofis hingga lantunan pantun indah yang mengiringi jamuan makan bersama

Tradisi Rajo Tigo Selo

Masih adakah Raja Minangkabau? Pertanyaan serupa mungkin juga sering terucap untuk banyak kerajaan di Nusantara lainnya. Lumrah, sebab selama ini kerajaan di Nusantara yang sering terdengar di telinga masyarakat Indonesia hanya beberapa, seperti Kesultanan Cirebon.

Jawaban untuk pertanyaan di atas adalah masih ada. Bahkan, masyarakat Minangkabau tidak hanya mengenal satu raja, melainkan tiga raja sekaligus yang disebut Rajo Tigo Selo. Ketiganya memiliki takhta yang terpisah, tapi merupakan satu kesatuan, yaitu Raja Adat, Raja Alam, dan Raja Ibadat, yang berasal dari satu keturunan. Salah satunya adalah Sultan Pagaruyung yang baru saja naik takhta tahun 2018, yaitu Dr. Muhammad Farid Thaib, Raja Alam Darul Qorar.

Jamuan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam adat istiadat dengan segudang aturannya. Tak terkecuali dalam upacara Kerajaan Minangkabau. “Ada tiga cara penyajian makanan untuk sebuah perjamuan,” terang Raudha Thaib, Ketua Dewan Pimpinan Bundo Kandung Alam Minangkabau, yang juga Ketua Bundo Kandung se-Sumatera Barat. Makan bajamba, makan barapak, dan makan baronjong. Tiap-tiap daerah di Minangkabau memiliki tradisi masing-masing.

makan-bajamba
Makan Bajamba. Photo uda Erison J.Kambari

Makan bajamba adalah makan bersama dalam satu dulang atau satu nampan yang berisi nasi dan lauk-pauk dalam piring yang tersusun rapi di dalamnya. Dulang yang kemudian ditutup dengan kain khas Minang inilah yang disebut jamba. Beberapa daerah di Minangkabau menjamu tamu-tamu kehormatan dengan makan bajamba, misalnya dalam acara adat seperti pengangkatan datuk.

Untuk para tetua adat atau tamu kehormatan, mereka mendapatkan keistimewaan menyantap satu dulang lengkap. Sementara untuk tamu lainnya disiapkan dulang untuk disantap oleh beberapa orang secara bersama. Setidaknya ada dua porsi dalam satu dulang berikut porsi nasi untuk tambahan.

Membawa Jamba di kepala
Membawa Jamba di kepala. Photo uda Erison J.Kambari

Di Nagari Koto Gadang, nasi dihidangkan dalam satu piring besar untuk dimakan oleh dua sampai empat orang, dilengkapi lauk-pauk yang ditata di atas piring-piring. Mereka duduk mengelilingi piring-piring ini dan mengambil lauk yang disukai. Ada batas tak kasatmata ketika menyantap hidangan, sehingga tidak ada kesan berebut, atau mengambil nasi dari ‘wilayah’ teman satu pinggan.

Makan barapak atau makan baedang adalah prosesi makan bersama dengan menggelar taplak putih panjang dan meletakkan aneka lauk di atasnya. Disertakan pula “kepala jamba” yang biasanya berupa rendang daging. Tamu duduk mengelilingi taplak yang digelar di dalam rumah gadang.

Lain lagi dengan makan baronjong, makan bersama yang biasanya diadakan di luar ruangan (outdoor). Mengapa di luar? Sebab, acara adat yang diselenggarakan mengundang banyak orang, sehingga tidak cukup jika diadakan di dalam rumah. Cara makannya tetap dengan bajamba ataupun barapak.

Pamer Keragaman Lauk-Pauk

Raudha juga menjelaskan bahwa lauk-pauk yang terhidang berbeda pada tiap jenis jamuan, tergantung pada tujuan jamuan itu digelar. Misalnya, seekor kerbau akan disembelih untuk jamuan pengangkatan datuk atau penghulu. Daging kerbau dimasak menjadi gulai merah dan gulai putih yang akan dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Lihat juga :   PACU UPIAH: Permainan Tradisional Anak Nagari di Minangkabau

Penjelasan serupa juga diucapkan oleh Pinto Anugrah, Datuk Perpatih dari Nagari Sungai Tarab dengan tempat kedudukan Panitahan, Basa Ampek Balai Kerajaan Pagaruyung. “Ada dua samba atau lauk yang dihidangkan untuk sebuah jamuan adat, yaitu rendang daging dan gulai daging dengan pucuk rebung,” ujar Pinto, menjelaskan jamuan adat di daerah asalnya.

Mengapa pucuk rebung? Ternyata, ada nilai filosofi yang sangat dalam. Evolusi bambu yang diwakili oleh rebung melambangkan proses kehidupan manusia menjadi seseorang yang berguna, seperti bambu yang semua bagiannya berguna untuk kehidupan.

Lain lagi jamuan makan saat perhelatan akbar, seperti upacara pernikahan. Lauk yang terhidang lebih beraneka ragam. Ragam makanan itu tentu saja akan disajikan dalam piring yang indah. “Biasanya menggunakan piring koleksi yang sehari-hari tersimpan di lemari. Koleksi yang hanya keluar untuk acara penting,” terang Fitri Sofyani, keturunan dari Raja Siguntur yang masih memiliki hubungan dengan Raja Adityawarman, saat menceritakan pesta pernikahnnya.

Bait pepatah petitih (pantun) dalam buku Pantun Adat Minangkabau yang dikumpulkan oleh N.M. Rangkoto tahun 2011 berikut ini memberi gambaran tentang lauk apa saja yang disiapkan.

Takato samba randang Minang
Dagiang sakati bakalio
Kalio dimasak jadi randang
Alun dikinyam lah maraso
Gulainyo cukuik lauak pauak
lah tasadio langkok-langkoknyo
Nan saratuih pamasak masuik
Linang guminang malah kuahnyo

Satitiak jatuahnyo kuah
Jatuah ka nasi dalam pinggan
Sapinggan nasi nan basah
Kanyang nan indak rago makan

Alun dikinyam lah maraso
Raso nan Jimek dalam tubuh
Alun disuok lah badaso
Kalau disuok nan batambuah

Dalam bait di atas digambarkan banyak lauk-pauk yang tersaji. Lauk yang disajikan haruslah lengkap atau langkok. Ayam dimasak singgang, ikan dimasak pangek masin atau gulai kuning. Rendang yagn menjadi makanan kebanggaan dipastikan hadir. Karena jumlah porsi yang banyak, rendang mulai dimasak sejak dua hari sebelumnya.

Masing-masing daerah menyajikan rendang yang menjadi ciri khas wilayah mereka. Daerah Batusangkar misalnya, di tempat Istana Pagaruyung dan Istana Lindung Bulan berada ini disajikan rendang daging dan rendang belut yang dicampur dengan aneka tumbuhan.

Lihat juga :   Wisata Halal Sumbar Menjadi Objek Penelitian

Ada lebih dari empat puluh bahkan ratusan jenis daun yang dapat direndang. Sajian utama ini hadir dilengkapi hidangan penutup, berupa wajik ketan bergula aren, ketan srikaya, atau kue-kue bolu yang khusus dibuat oleh bundo kanduang atau kiriman keluarga terdekat.

Laki-Laki Sebagai Juru Masak

Persiapan sebuah perhelatan (baralek) sudah dilakukan jauh-jauh hari. Para Ninik Mamak (Kepala Kaum) dan Bundo Kanduang (Perempuan pemimpin keluarga) sudah menyiapkan daftar belanja dan apa saja yang akan disajikan. kerbau sudah dipotong untuk dimasak rendang. Dangau atau gubuk sudah didirikan sebagai tempat berteduh para pemasak dari terik matahari dan guyuran hujan.

Jika di dapur profesional profesi chef didominasi kaum pria, di Minangkabau laki-laki juga memiliki peran penting menjadi juru masak untuk acara-acara adat. Secara turun-temurun mereka dikenalkan dan diwariskan dengan begitu detail bumbu untuk memasak gulai kambing, gulai rebung, hingga rendang. Jika pria atau mamak memasak lauk, lantas apa yang dikerjakan kamu perempuan? Para perempuan biasanya menyiapkan hidangan penutup, memarut kelapa, dan mempersiapkan perangkat makan.

Kegiatan memasak dan menyiapkan perhelatan ini menjadi pemersatu keluarga dan kerabat. Para tetangga atau yang menjadi satu kaum akan berkumpul saling membantu. lebih lanjut, Fitri menceritakan, sewaktu keluarganya berkumpul dan memasak untuk perhelatan pernikahannya, di dekat area dapur dipasang gong. Gong ini dibunyikan di waktu-waktu yang tepat untuk menyemangati mereka yang sedang memasak. Senandung pun dilantunkan begitu gong dibunyikan. Karena Fitri adalah salah satu ahli waris kerajaan, maka gong yang dipakai dipinjam dari Istana Siguntur.

Setelah semua bahan makanan tersedia, proses memasak pun dapat dimulai. Seperti Rajo Tigo Selo yang saling melengkapi, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau dikenal sebagai Tungku Tigo Sajarangan. Istilah kepemimpinan di tanah Minang menggambarkan seimbangnya kehidupan sehari-hari dengan tiga orang pemimpin, yaitu ninik mamak (penghulu), cadiak pandai (kaum terpelajar), dan alim ulama (pemuka agama). Falsafah ini juga dipakai dalam proses memasak. Batu yang diatur hingga menyerupai segitiga menjadi pengokoh kedudukan kuali saat memasak dan membuat ruang yang cukup untuk kayu bakar.

Basilang kayu dalam tungku di situ api manko iduik (Bersilang kayu dalam tungku di situlah api akan hidup). Artinya, semua tidak saling menonjolkan diri, namun saling melengkapi agar tercapai keselarasan. Terbayang bagaimana semua unsur saling terkait dengan nilai kehidupan yang begitu dalam untuk sebuah jamuan makan.

Lihat juga :   Pacu Jawi: Spirit Of Minangkabau Kawah Candradimuka Fotographer

Pantun Pengiring Jamuan

Hari yang dinanti tiba, para tamu yang berdatangan menunggu di bawah tenda yang sudah didirikan untuk beristirahat dan berkumpul sebelum menaiki tangga rumah gadang. Tetua adat hadir mengenakkan pakaian kebesarannya. Para datuk berkemeja putih berbalut jas dan mengenakkan celana batik. Sarung disampirkan di pundak dan saluak di kepala. Sementara untuk tamu wanitanya, memakai baju kurung dan tikuluak sebagai penutup kepala.

Saat dipersilahkan menaiki tangga rumah, kaum perempuan yang membawa dulang akan disambut oleh tuan rumah yang akan mengambil dulang. Setelah itu mereka dipersilahkan duduk di sitindiah (bagian dalam rumah yang lebih tinggi/bagian atas) dengan bersimpuh. Tamu laki-laki mendapat tempat di dalam rumah bagian bawah dan duduk bersila. Dalam adat Minang, tidak ada kursi saat makan di dalam rumah gadang.

Janang si Penghidang Makanan
Janang si Penghidang Makanan. Photo uda Erison J.Kambari

Duduk pun ada tempatnya, yang ditentukan berdasarkan garis kekerabatan. Jika mereka dalam satu keturunan, maka dipersilahkan duduk membelakangi dinding depan rumah gadang. Mamak rumah (laki-laki yang menjadi tuan rumah) duduk menghadap pintu bilik. Lain lagi dengan orang sumando (terikat karena tali perkawinan), mereka akan duduk di ruang tengah, menghadap ke pintu keluar. Ketika tamu sudah menempati tempat duduknya, para penyaji makanan (janang) yang semuanya laki-laki berbaju koko putih, bercelana batik dan berpeci, mulai menempatkan makanan yang sudah disiapkan.

Saat semua sudah terhidang, apakah bisa langsung disantap? Dalam adat Miangkabau, sebuah jamuan belum lengkap jika tidak diawali dengan prosesi pepatah petitih. Dari begitu panjang dan menariknya pepatah petitih, di akhir baitnya tuan rumah akan mempersilakan menikmati hidangan.

Kalau baitu kato tuan
Sananglah pulo hati kami
Tuan makan kami kawankan
Basuhlah jari nan limo
Dengan bismillah kito mulai.

Tak berhenti di awal, pepatah petitih berlanjut di tengah jamuan berlangsung, mempersilakan para tamu untuk tidak ragu menambah nasinya. Pantun akan terus dilantunkan hingga akhir acara makan, saat para tamu bersiap berpamitan.

Bapilin tareh dipijakkan
Menggapai-gapai tak beranjak
Masin jo padeh pabauakan
Di sinan gulai mangkonyo lamak

Ko ado sumua di ladang
Ka baleh kito barulang mandi
Ko ado umua samo panjang
Insya Allah disambuang kaji.

Jamuan Negeri Minangkabau oleh Reno Andam Suri (Kontributor) | Photographer: EJK- Erison J.Kambari (Son)

User Rating: 5 ( 1 votes)
Tags

Amin

Saya bersama Tim sedang mengerjakan jejaring sosial pariwisata Sumatera Barat, mohon bantuan dan doanya. Founder of @minangtourism

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close