Seni dan Budaya

Pakaian Adat Sungayang: Bersumber dari Alam & Menggambarkan Kehidupan Masyarakat Minangkabau

Pakaian Adat bundo kanduang merupakan aset budaya daerah masing-masing di Minangkabau. Setiap daerah di Minangkabau memiliki pakaian adat bundo kanduang yang beragam, dimana pakaian adat tersebut memiliki perbedaan perlengkapan.

Contoh di kenagarian Sungayang terdapat beberapa jenis pakaian adat bundo kanduang lengkap dengan perlengkapannya seperti, tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis. Begitupun dengan daerah lainnya di Sumatera Barat, semuanya memiliki perlengkapan pakaian adat yang berbeda dengan bentuk, fungsi, dan
makna tersendiri dalam adat Minangkabau.

Kenagarian Sungayang memiliki tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis sebagai perlengkapan pakaian adat bundo kanduang. Tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis adalah perlengkapan pakian adat bundo kanduang yang di pakai di bagian kepala. Selain kaya akan makna tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis juga berperan penting dalam melambangkan kedudukan serta kepribadian bundo kanduang.

Bentuk, fungsi dan makna pada tingkuluak adat di kenagarian Sungayang, kabupaten Tanah Datar

A. Bentuk Tingkuluak di Kenagarian Sungayang

Ada 2 bentuk tingkuluak adat yang ada di kenagarian Sungayang yaitu: tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis. Serta bentuk tingkuluak adat yang ada di kenagarian Sungayang baik tingkuluak balapak maupun tingkuluak bugis menyerupai bentuk gonjong atap rumah gadang atau tanduk kerbau. Bentuk dari kedua tingkuluak tersebut diambil atau terinspirasi dari alam, karena orang Minangkabau selalu berguru pada alam sesuai dengan filsafahnya “alam takambang jadi guru”.

Photo: instagram @pujamustika988

Tingkuluak balapak adalah: stilirisasi bentuk tanduk kerbau yang sudah menjadi simbol Minangkabau Sumatera Barat, dengan pembentukan persegi panjang pada bahagian atas yang menutupi kedua ujung tingkuluak dan memiliki tinggi lebih kurang tiga puluh senti meter.

Pada bahagian belakang ujung kain balapak yang kiri dilipatkan sehingga menutupi rambut dan ujung yang kanan dibiarkan terlepas di atas bahu kanan. Bentuk tingkuluak balapak seperti gonjong rumah gadang, empat persegi panjang pada bahagian atas, ujung kiri kain menutupi kedua ujung tanduk dan ujung sebelah kanan dibiarkan terurai, tingginyan ± 40cm × 30cm. Bahannya memakai kain songket yang bewarna coklat kemerahan yang dihiasi oleh benang emas.

Lihat juga :   BI: Pariwisata Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Baru Ekonomi Sumbar

Tingkuluak bugis merupakan stilirisasi bentuk tanduk kerbau yang sudah menjadi simbol Minangkabau dan terlihat pada atap rumah adat, adapun bentuknya memiliki puncak pada bahagian atas dan pada kedua
sisi memiliki puncak yang sedikit rendah dari puncak, merupakan gambaran bentuk bahagian samping dari rumah gadang. Kedua ujung kain Bugis dibiarkan lepas pada sisi kanan dan kiri.

Bentuk tingkuluak bugis menyerupai gonjong atap rumah gadang. Bentuknya lonjong di tengah sedangkan sisi kiri dan kanannya sama tinggi, kalau diukur tinggi tingkuluak bugis ± 40cm × 30cm. Kedua ujung kain dilipat ke belakang kepala. Bahannya memakai kain sarung dari Bugis yang halus dan memiliki dasar warna gelap.

B. Fungsi Tingkuluak di Kenagarian Sungayang

Secara umum tingkuluak berfungsi sebagai perlengkapan pakaian adat bundo kanduang dan juga untuk melambangkan bundo kanduang serta kedudukan bundo kanduang dalam upacara-upacara adat.

Adapun fungsi dari tingkuluak balapak dalam upacara adat seperti: pesta perkawinan, sunatan, batagak penghulu. Sedangkan fungsi tingkuluak bugis dalam upacara adat yang terutama sekali yaitu dalam kematian dan berfungsi juga pada upacara adat perkawinan, sunatan, dan batagak penghulu.

C. Makna Tingkuluak di Kenagarian Sungayang

Ditinjau dari segi makna tingkuluak adat di kenagarian sungayang kaya akan makna, tidak hanya dari segi bentuk tetapi juga dari motif-motif yang terdapat pada tingkuluaknya. Bentuk tingkuluak balapak bundo
kanduang di nagari Sungayang ini melambangkan kebangsawanan serta tidak bolehnya menjunjung beban yang berat. Minsia yang ditata berada pada bagian kanan, menggambarkan bahwa demokrasi lebih diutamakan
dikawasan kenagarian Sungayang tetapi berada pada batas-batas tertentu dilingkungan alur dan patut.

Makna yang terdapat pada bentuk tingkuluak balapak di kenagarian Sungayang (Pakaian Adat Sungayang) adalah:

  1. Bentuk persegi panjang yang terletak di bagian puncak tingkuluak balapak bermaknakan: musyawarah yang adil dan demokrasi yang merata kepada setiap warga dalam kenagarian Sungayang dan bundo kanduang sebagai limpapeh di rumah gadang mengisyaratkan kedudukannya sama dengan datuak atau penghulu.
  2. Ujung kain sebelah kanan bermakna bahwa: bundo kanduang di kenagarian Sungayang yang memiliki adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, bahwa bundo kanduang diharapkan selalu berbuat hal yang baik yaitu dengan tangan kanan.
  3. Penutup dahi Ini bermaknakan: bahwa bundo kanduang harus menutupi segala hal yang terjadi dan tetap terlihat tenang di depan kaumnya walaupun sebenarnya di rumah gadang sedang terjadi masalah.
  4. Penutup sanggul yang bermaknakan: bundo kanduang yang mengetahui bahwa rambut sebagai aurat yang mesti ditutupi. Bundo kanduang harus menjadi contoh bagi kaum perempuan di sukunya.
Lihat juga :   Sumbar Promosikan Laut dan Wisata Alam di Deep Indonesia 2019

Tidak hanya makna pada bentuk tingkuluak balapak, tetapi motif yang terdapat di kain tingkuluak balapak juga memiliki makna yang dipercayai oleh masyarakat Sungayang mencerminkan tingkah laku seorang bundo kanduang.

Motif tersebut penamaan dan bentuknya diambil dan terinspirasi dari alam, karena sesuai dengan kebiasaan dan falsafah masyarakat Minangkabau yaitu: “alam takambang jadi guru”. Jadi motif-motif tersebut diambil dari bentuk flora, fauna, dan geometris.

User Rating: 5 ( 1 votes)
Source
repository.unp.ac.id
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/* */
Back to top button
Close
Close